Radiuskaltim.co, Samarinda – DPRD Kota Samarinda menilai rendahnya keterlibatan generasi muda dalam proses perumusan kebijakan publik telah menjadi salah satu isu krusial yang membuat agenda pembangunan kota kurang responsif terhadap kebutuhan zaman. Dewan menyebut, banyak kebijakan lahir tanpa mempertimbangkan perspektif kelompok usia produktif yang justru paling terdampak oleh arah pembangunan.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Hermiansyah, menyatakan bahwa persoalan utamanya bukan pada kurangnya ruang diskusi, melainkan absennya mekanisme formal yang benar-benar membuka pintu bagi mahasiswa dan komunitas muda untuk ikut menentukan agenda kebijakan.
“Kita sering mengajak anak muda berdialog, tetapi suara mereka belum terlembagakan. Inilah isu yang harus dibenahi. Representasi mereka masih lemah dalam proses pengambilan keputusan,” ujarnya.
Hermiansyah menilai, pendekatan pemerintah daerah terhadap partisipasi publik masih bersifat seremonial. Ia menegaskan perlunya platform konsultasi kebijakan yang berkelanjutan, bukan sekadar forum yang berhenti setelah satu kegiatan selesai.
“Kalau kita ingin kebijakan yang relevan, masukan anak muda harus masuk sejak awal, bukan setelah rancangan jadi. Mereka harus dilibatkan dalam proses, bukan hanya diundang untuk mendengar,” tegasnya.
DPRD mendorong agar ke depan disusun mekanisme partisipasi tematik yang mengundang mahasiswa dan akademisi muda untuk memberikan analisis berbasis data, terutama terkait isu-isu yang langsung bersentuhan dengan generasi produktif, seperti lapangan kerja, pendidikan, kesehatan mental, dan ruang kreativitas.
“Kebijakan akan jauh lebih kuat bila didukung riset dan perspektif generasi yang tumbuh di era digital. Ini bukan hanya soal mendengar aspirasi, tapi memastikan suara mereka mempengaruhi keputusan,” tambah Hermiansyah.
Ia menekankan bahwa DPRD siap menjadi jembatan untuk memperkuat representasi tersebut, termasuk mendorong rancangan regulasi yang membuka partisipasi warga muda secara terstruktur.
“Kita ingin sistem yang memungkinkan energi, kritik, dan kreativitas anak muda benar-benar masuk ke dapur kebijakan kota. Itu kuncinya,” pungkasnya.









