RadiusKaltim. co, Samarinda – Persoalan akses layanan dasar masih menjadi tantangan besar bagi warga pendatang yang bermukim di wilayah kawasan Batu Besaung dan Batu Cermin, Kecamatan Samarinda Utara. Solusi sementara, anak-anak di kawasan itu terpaksa menempuh pendidikan di Sekolah Rimba. Sekolah non formal yang digagas oleh para relawan itu menjadi tempat belajar bagi puluhan anak yang tinggal di pelosok dan sulit menjangkau sekolah formal.
Menaggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti menerangkan, sebagian besar warga di kawasan itu bekerja sebagai petani dan menetap di pondok kebun yang ada di tengah hutan.
Ketiadaan sarana transportasi, tentu menjadi hambatan utama anak-anak setempat untuk mengakses sekolah yang jaraknya cukup jauh di kawasan Samarinda Utara.
“Sebenarnya di sana ada SDN 007, cuma memang jaraknya jauh. Ditambah lagi penduduk di sana rata-rata tidak punya kendaraan, karena mayoritas adalah pendatang dari Sulawesi,” kata Puji, ditemui di kantornya, Rabu (03/6/2026.
Pemerintah Kota Samarinda sendiri menghadapi dilema jika ingin membangun infrastruktur sekolah permanen di wilayah itu. Pasalnya, populasi penduduk di wilayah perkebunan itu bersifat fluktuatif dan sering berpindah-pindah mengikuti lahan garapan.
“Pernah dibangun sekolah di sana, tapi muridnya sedikit. Dari yang awalnya banyak, lama-lama sisa tujuh orang karena orang tuanya berpindah-pindah. Mereka kan mayoritas pendatang,” ujar Puji.
Masalah tidak berhenti pada pendidikan. Akses kesehatan juga sulit dijangkau, yang berdampak pada munculnya kasus anak stunting di wilayah itu. Di Batu Cermin misalnya, warga sangat sulit mengakses Posyandu. Kondisi ini diperparah dengan status kependudukan warga yang belum terdata sebagai penduduk kota Samarinda.
“KTP mereka masih berdomisili Sulawesi. Bahkan ada juga yang tidak memiliki KTP. Ini yang membuat akhirnya kesulitan untuk akses mendapatkan layanan BPJS,” jelas Puji.
Sebagai jalan keluar, DPRD Samarinda menyarankan agar anak-anak usia sekola didorong untuk masuk ke Sekolah Rakyat. Program ini dinilai lebih mampu menjamin kebutuhan dasar siswa, mulai dari kebutuhan sehari-hari, termasuk makanan bergizi hingga pendidikan.
“Salah satu solusinya masuk ke Sekolah Rakyat. Di sana segala kebutuhan yang dibutuhkan siswa telah terjamin,”jelas Sri Puji Astuti.









