Radiuskaltim.co, Samarinda – Ketua DPRD Kota Samarinda, Helmi Abdullah, menegaskan bahwa tantangan terbesar UMKM Kota Tepian saat ini bukan lagi terletak pada kemampuan membuat produk, tetapi kesiapan mereka mengelola usaha secara modern. Ia menilai, sebagian besar UMKM masih tertinggal dalam pemanfaatan teknologi dan penguatan manajerial, padahal dua hal itu menjadi penentu keberlanjutan usaha di era digital.
“Banyak pelaku UMKM sudah punya produk bagus, tapi belum punya sistem pengelolaan yang rapi. Tanpa itu, mereka sulit naik kelas,” ujar Helmi dalam keterangannya.
Menurutnya, problem umum yang ditemui di lapangan meliputi lemahnya pencatatan keuangan, strategi pemasaran yang belum tersusun, hingga rendahnya pemahaman penggunaan platform digital. Helmi menekankan perlunya perubahan pola pembinaan agar UMKM tidak lagi berjalan dengan pendekatan konvensional.
“Kita butuh pola pendampingan yang menyentuh inti persoalan. Bukan hanya pelatihan produksi, tetapi juga bagaimana UMKM mampu mengelola usaha dengan standar profesional,” jelasnya.
DPRD Samarinda, lanjutnya, mendorong pemerintah agar merancang program pemberdayaan yang lebih menyeluruh, termasuk edukasi literasi digital, manajemen usaha, hingga pembukaan akses pasar. Ia menilai pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan jauh lebih efektif dibanding pelatihan singkat yang tidak diikuti pengawasan hasil.
“Kalau programnya komprehensif, pelaku usaha tidak hanya tahu cara membuat produk, tetapi juga memahami strategi bisnisnya,” tegas Helmi.
Ia menyatakan optimistis, ekosistem UMKM yang kuat dapat menjadi penyangga utama pertumbuhan ekonomi lokal. Karena itu, sinergi lintas sektor menjadi kunci: pemerintah menyediakan kebijakan dan fasilitas, DPRD memastikan pengawasan, dan pelaku usaha meningkatkan disiplin pengelolaan.
“UMKM tidak bisa bertahan sendirian. Harus ada dukungan lintas pihak yang saling menguatkan,” katanya.
Helmi berharap percepatan transformasi UMKM ini menjadi gerakan kolektif yang berdampak jangka panjang, bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia meyakini, jika pembinaan dilakukan dengan benar, produk-produk lokal Samarinda dapat memiliki posisi kuat di pasar yang lebih luas.
“Kita ingin produk Samarinda punya identitas, kualitas, dan kepercayaan konsumen. Itu hanya bisa dicapai dengan pengelolaan yang baik,” pungkasnya.









