RadiusKaltim.co, Samarinda – DPRD Kota Samarinda menilai perlunya pembenahan menyeluruh terhadap budaya berkendara di tengah meningkatnya penggunaan aksesori kendaraan yang tidak sesuai peruntukan. Dewan menyatakan, masalah yang kini ramai diperbincangkan masyarakat bukan hanya soal sirine dan strobo, tetapi soal ketertiban ruang jalan yang harus dijaga bersama.
Anggota Komisi I DPRD Samarinda, Kamaruddin, menyebutkan bahwa penggunaan perlengkapan kendaraan tertentu sering disalahartikan sebagai simbol prioritas jalan. Padahal, aturan mengenai kendaraan dengan hak utama sudah diatur jelas dan tidak bisa ditafsirkan bebas.
“Bukan alatnya yang bermasalah, tapi cara masyarakat memperlakukannya. Ada yang memasang lampu tertentu demi gaya, padahal itu melanggar dan mengganggu kenyamanan publik,” ujarnya.
Menurut Kamaruddin, pemerintah daerah perlu mengoptimalkan edukasi publik, terutama melalui sekolah, komunitas pecinta otomotif, hingga lingkungan kelurahan. Ia menegaskan, langkah ini penting agar warga memahami fungsi setiap jenis perlengkapan kendaraan, termasuk konsekuensi hukum jika disalahgunakan.
“Ketertiban jalan itu hasil dari pemahaman bersama. Edukasi harus berjalan paralel dengan penindakan agar ada perubahan perilaku yang nyata,” jelasnya.
Ia juga menilai, meningkatnya keluhan pengguna jalan belakangan ini menunjukkan adanya kesenjangan informasi mengenai hak dan kewajiban pengendara. Karena itu, koordinasi antara Pemkot, kepolisian, dan lembaga pendidikan perlu diperkuat agar kampanye keselamatan berjalan lebih terstruktur.
“Kalau informasi disampaikan secara seragam, masyarakat akan lebih mudah menyesuaikan diri. Fokus kita bukan memusuhi pengendara, tapi menciptakan kultur jalan yang aman,” tambahnya.
Komisi I memastikan akan mendorong pembahasan lebih lanjut mengenai tata kelola transportasi perkotaan, termasuk pengawasan penggunaan aksesori kendaraan. DPRD menilai, ruang jalan hanya akan tertib bila seluruh pemangku kepentingan menjalankan perannya dengan konsisten.
“Tujuan akhirnya adalah kenyamanan warga. Kita ingin suara bising, lampu menyilaukan, dan perilaku semaunya di jalan bisa ditekan. Kota ini harus jadi area yang aman, bukan ajang unjuk aksesori,” tegas Kamaruddin.









