Radiuskaltim.co, Samarinda – Alih-alih hanya berkutat pada isu penindakan, DPRD Kota Samarinda menilai penanganan narkoba di daerah ini masih belum ideal karena keterbatasan fasilitas rehabilitasi dan minimnya layanan pemulihan bagi korban penyalahgunaan. Sekretaris Komisi I DPRD Samarinda, Ronal Stephen Lonteng, menegaskan bahwa perang melawan narkoba harus menyentuh sisi hilir: pemulihan manusia.
Menurut Ronal, banyak pengguna yang sebenarnya ingin keluar dari jeratan narkotika, tetapi bingung harus mencari bantuan ke mana. Kondisi ini diperparah dengan ketersediaan fasilitas rehabilitasi yang dinilai belum merata dan kurang dikenal di masyarakat.
“Selama ini narasi kita selalu soal penangkapan. Padahal ada ratusan orang yang butuh pertolongan untuk pulih, tapi aksesnya masih terbatas,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Samarinda membutuhkan lebih banyak ruang rehabilitasi, pendamping sosial, hingga tenaga konselor yang dapat membantu penyalahguna kembali ke lingkungan secara aman. Minimnya fasilitas membuat sebagian warga takut melapor karena khawatir diperlakukan sebagai pelaku, bukan sebagai korban yang perlu dibantu.
“Tidak semua yang terlibat narkoba itu kriminal murni. Banyak yang sebenarnya korban dan harus ditangani secara medis dan psikososial. Ini sisi yang sering terlupakan,” kata Ronal.
Ronal mendorong Pemkot memperkuat kemitraan dengan lembaga rehabilitasi, rumah sakit, organisasi pemuda, serta komunitas anti-narkoba agar layanan pemulihan bisa lebih dekat dengan masyarakat.
“Kita harus membuka lebih banyak pintu bagi mereka yang ingin sembuh. Kalau jalurnya saja sulit, bagaimana mereka bisa memulai proses pemulihan?” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan layanan rehabilitasi yang mudah diakses akan mengurangi ketergantungan pada langkah represif. Pendekatan pemulihan dinilai lebih manusiawi sekaligus lebih efektif menurunkan angka penyalahgunaan dalam jangka panjang.
“Penindakan memang penting, tapi pemulihan itu kunci pencegahan jangka panjang. Kalau tidak disentuh, masalah ini hanya akan berulang,” tegasnya.
Ronal mengingatkan bahwa stigma sosial membuat banyak keluarga menyembunyikan anggota mereka yang terjerat narkoba. Ia menilai pemerintah harus aktif mengedukasi masyarakat bahwa rehabilitasi bukan hukuman, melainkan jalan untuk kembali membangun hidup.
“Kalau stigma masih kuat, korban tidak akan berani mencari bantuan. Kita harus membuka ruang aman bagi mereka,” tutupnya.









