Radiuskaltim.co, Samarinda – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai persoalan perilaku berisiko di kalangan remaja mulai dari pergaulan bebas hingga penggunaan barang berbahaya berakar dari minimnya ruang aktualisasi diri yang sehat.
Alih-alih hanya memperkeras kampanye larangan, ia menekankan pentingnya menghadirkan lebih banyak ruang kreatif, kegiatan positif, dan wadah pembinaan yang mampu menjadi alternatif nyata bagi anak muda.
Menurut Sri Puji, banyak remaja mencari pelarian pada kebiasaan yang tidak sehat karena tidak memiliki aktivitas produktif yang dapat menyalurkan energi dan rasa ingin tahunya.
“Bicara perilaku berisiko itu tidak cukup hanya dengan mengingatkan bahaya. Kita harus memberi mereka pilihan, ruang, dan kesempatan untuk berkembang,” ujarnya.
Ia menyoroti minimnya fasilitas kreatif dan ruang publik yang dapat digunakan remaja secara aman dan mudah. Sejumlah taman, gelanggang olahraga, dan ruang komunitas masih dianggap tidak merata dan kurang terintegrasi dengan program pembinaan.
“Anak muda Samarinda butuh tempat untuk berkreasi entah musik, olahraga, seni, teknologi tapi fasilitasnya masih terbatas dan tidak semua kawasan memilikinya,” katanya.
Sri Puji menegaskan bahwa program pembinaan remaja harus menyesuaikan perkembangan zaman dan minat generasi muda. Ia melihat masih banyak kegiatan pemerintah yang sifatnya seremonial, tidak berkelanjutan, dan tidak benar-benar menyentuh kebutuhan mereka.
“Kegiatan yang tidak mengikuti minat remaja hanya akan berjalan sekali lalu hilang. Kita butuh program yang hidup, yang relevan dan melibatkan komunitas anak muda secara langsung,” tegasnya.
Ia mendorong Pemkot untuk menggandeng komunitas kreatif, organisasi pemuda, hingga startup lokal sebagai mitra nyata dalam membangun kegiatan yang lebih menarik. Kolaborasi seperti ini diyakini lebih adaptif dan memiliki daya tarik kuat bagi anak muda.
“Komunitas itu punya bahasa yang dipahami remaja. Kalau pemerintah bekerja bersama mereka, hasilnya jauh lebih efektif,” ujarnya.
Meski demikian, Sri Puji mengingatkan bahwa keterlibatan keluarga tetap memiliki peran paling besar. Orang tua, menurutnya, harus aktif mengikuti perkembangan anak dan memberi dukungan positif untuk aktivitas yang sehat.
“Keluarga adalah pusat pembinaan pertama. Kalau komunikasi berjalan baik, anak punya pondasi yang lebih kuat untuk memilih kegiatan yang positif,” tutupnya.









