Radiuskaltim.co, Samarinda – Rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda kembali mendapat sorotan. Bukan soal teknologinya, melainkan efektivitas kebijakan pengurangan sampah yang dinilai masih jauh dari harapan.
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Ardiansyah, menegaskan bahwa fokus pemerintah seharusnya tidak semata pada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) atau fasilitas serupa, tetapi pada pencapaian target pengurangan sampah yang selama ini disebut-sebut stagnan.
“Teknologi bisa dibangun kapan saja. Tapi kebijakan pengurangan sampah dari rumah tangga itu yang masih belum tampak progresnya,” ujarnya.
Menurut Ardiansyah, tren pembangunan fasilitas pengolahan sampah memang meningkat seiring masuknya investor seperti Danantara. Namun, ia menilai pemerintah harus memastikan bahwa investasi tidak menjadi alibi untuk mengabaikan akar masalah: tingginya volume sampah harian yang terus mengalir ke Tempat Pemrosesan Akhir.
Ia menyebut, tanpa pengendalian sejak sumbernya, fasilitas secanggih apa pun akan tetap kewalahan.
“Yang berbahaya itu ketika semua berharap PLTSA bisa menyelesaikan semuanya. Padahal kalau sampah terus meningkat, kapasitas fasilitas apa pun pasti jebol,” katanya.
Ardiansyah mendorong Pemkot Samarinda mempublikasikan roadmap formal terkait pengurangan sampah minimal dalam rentang lima tahun ke depan. Roadmap tersebut harus berisi target penurunan produksi sampah, pola pengawasan, edukasi masyarakat, serta evaluasi kelurahan yang masih rendah tingkat pengelolaannya.
“DPRD ingin melihat arah besarnya. Jangan hanya presentasi proyek, tetapi tidak menunjukkan bagaimana perilaku warga bisa berubah,” tegasnya.
Selain roadmap, pihaknya mendesak agar penertiban titik pembuangan liar diprioritaskan. Ia menyebut keberadaan ratusan titik pembuangan ilegal yang sudah menahun justru menjadi indikator bahwa manajemen persampahan belum tertata meski proyek besar telah disiapkan.
“Selama sampah masih dibuang di tikungan jalan, bantaran sungai, atau lahan kosong, itu artinya sistem belum berjalan,” ujarnya.
Ardiansyah mengingatkan bahwa perubahan perilaku masyarakat tetap menjadi kunci. Ia mendorong program edukasi yang berkesinambungan melalui RT, sekolah, serta gerakan memilah sampah yang dievaluasi rutin.
“Tidak ada teknologi yang bisa menggantikan kesadaran warga. Kalau perilaku tidak berubah, semua proyek hanya jadi monumen mahal,” tutupnya.









