Radiuskaltim.co, Kukar – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri, menyebut Kota Tenggarong harus menjadi etalase yang mencerminkan kualitas pembangunan, pelayanan publik, budaya, dan kehidupan masyarakat di Kabupaten Kukar.
Menurutnya, Tenggarong bukan sekadar pusat pemerintahan, tetapi juga wajah daerah yang pertama kali dilihat masyarakat luar ketika berkunjung ke Kukar.
Hal itu disampaikan Aulia saat memberikan sambutan dalam Rapat Paripurna DPRD Kukar dengan agenda Mendengarkan Pidato Bupati dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-244 Kota Tenggarong, di Ruang Sidang Utama DPRD Kukar, Senin (28/9/2026).
Aulia mengatakan, meskipun Kukar memiliki 20 kecamatan, Tenggarong mempunyai posisi penting dalam membangun citra daerah. Kebersihan kota, keramahan masyarakat, kualitas pelayanan pemerintah hingga kehidupan budayanya menjadi gambaran tentang Kukar secara keseluruhan.
“Ketika orang datang ke Tenggarong dan melihat kebersihan kotanya, melihat bagaimana pelayanan pemerintah diberikan, melihat kehidupan masyarakatnya, mereka juga melihat wajah Kabupaten Kutai Kartanegara,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap Tenggarong tidak hanya menjadi kota yang indah secara visual, tetapi juga mampu menunjukkan kualitas pembangunan dan peradaban masyarakatnya.
Dalam momentum hari jadi tersebut, Aulia juga mengingatkan bahwa Tenggarong memiliki sejarah panjang yang menjadi bagian penting dari identitas Kukar.
Sejarah kota ini berawal dari keputusan Sultan Haji Muhammad Muslihuddin atau Aji Imbut pada 28 September 1782 yang memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Kutai dari Pemarangan ke Tepian Pandan.
Kawasan tersebut kemudian dikenal sebagai Tangga Arung yang bermakna Rumah Raja, sebelum berkembang menjadi Tenggarong seperti sekarang.
“Jadi, Tenggarong bukan kota yang tiba-tiba hadir. Kota ini tumbuh dari perjalanan peradaban, dari pusat pemerintahan kesultanan, kehidupan masyarakat di tepian Mahakam, perdagangan, kebudayaan, dan tradisi,” katanya.
Mengusung tema Manunggal Raja Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya, Aulia menilai peringatan tahun ini menjadi pengingat pentingnya kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat.
Ia menjelaskan, pembangunan tidak bisa hanya mengandalkan program pemerintah. Keberhasilan daerah juga ditentukan oleh seberapa kuat seluruh elemen masyarakat bergerak bersama.
Aulia pun mengajak seluruh pihak menjaga persatuan dan menjadikan perbedaan sebagai ruang berdiskusi untuk menemukan solusi, bukan alasan untuk memecah langkah pembangunan.
“Perbedaan itu pasti ada, tetapi perbedaan bukan untuk memecah langkah kita. Kita diskusikan, kita bicarakan, kita cari jalan temunya sehingga ketika sudah kompak, kita bergerak bersama,” tegasnya.
Ia berharap Tenggarong terus berkembang sebagai kota yang maju, nyaman, aman, berbudaya, dan membanggakan seluruh masyarakat Kukar. (Adv/Hrd)









