DPRD Kaltim Soroti Lonjakan Kekerasan Anak, Sebut Ada Masalah Serius dalam Ketahanan Psikososial Keluarga

- Jurnalis

Jumat, 12 Desember 2025 - 08:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lonjakan kasus kekerasan terhadap anak yang kembali terungkap di berbagai daerah di Kalimantan Timur mendorong Komisi IV DPRD Kaltim angkat suara. Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, H. Baba, menyatakan bahwa maraknya kejadian ini bukan lagi persoalan insidental, melainkan tanda adanya masalah serius dalam ketahanan psikososial keluarga.

H. Baba mengungkapkan bahwa beberapa kasus terbaru bahkan menunjukkan keterlibatan orang tua sebagai pelaku utama, sebuah kondisi yang disebutnya sebagai indikasi kuat bahwa mekanisme pencegahan dan pemantauan saat ini belum mampu menjangkau akar permasalahan.

“Ini menandakan adanya faktor laten yang tidak terjangkau oleh sistem pencegahan dan pemantauan saat ini,” ujarnya.

Ia menilai tindakan ekstrem, termasuk dugaan pembunuhan anak oleh orang tua kandung, harus menjadi alarm bagi pemerintah bahwa deteksi dini persoalan mental di tingkat keluarga masih sangat lemah.

Baca Juga :  Damayanti Dorong Penambahan Sekolah Negeri tingkat SMA dan SMK di Balikpapan Tengah

“Jika sampai seorang orang tua kehilangan kontrol hingga mencederai atau menghilangkan nyawa anaknya, kita harus melihat itu sebagai gejala serius,” tegas H. Baba.

Selain persoalan mental yang tidak terdiagnosis, ia menyebut sejumlah faktor lain turut menjadi pemicu, seperti tekanan ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, hingga pola asuh yang tidak adaptif. Namun ia menilai respons yang diberikan selama ini masih terlalu berfokus pada penindakan hukum, sementara aspek psikologis pelaku maupun korban sering kali terabaikan.

Baca Juga :  Subandi Himbau Masyarakat Kaltim Gunakan Hak Politiknya dan Jangan Golput

“Banyak orang tua tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengelola emosi. Di sisi lain, mereka juga kurang mengenal cara menghadapi perilaku anak yang menantang,” ujarnya.

H. Baba menambahkan bahwa beberapa pelaku sebenarnya membutuhkan bantuan tenaga profesional jauh sebelum tragedi terjadi, namun akses layanan tersebut masih sangat terbatas. Ia juga menyoroti minimnya edukasi pola asuh modern, yang menyebabkan sebagian orang tua masih menggunakan pendekatan keras yang tidak sesuai dengan perkembangan psikologi anak masa kini.

Komisi IV mendesak pemerintah memperkuat layanan kesehatan mental, memperluas akses pendampingan keluarga, serta mengintensifkan edukasi pola asuh positif untuk mencegah kekerasan serupa terulang kembali. (Adv).

Penulis : Herdi

Editor : Syahfril

Berita Terkait

Komisi IV Desak Penutupan Permanen Seluruh Titik Prostitusi Ilegal di Samarinda
DPRD Desak Pemerintah Pastikan Keberlanjutan Folder Sungai Siring
Fokus Penanganan Banjir Masih Terpecah, DPRD Dorong Prioritaskan Hulu SKM
DPRD Minta Skema Pengawasan Dana RT di Kutim Diperkuat, Bukan Hanya Besaran Anggarannya
Sengketa Internal Dianggap Akibat Minimnya Prosedur Kolektif, DPRD Kaltim Dorong Transparansi Seleksi KPID
Hasanuddin Sebut Minimnya Standar Pelatihan untuk Daerah Sebabkan Ketimpangan Serapan Anggaran
Pemprov Diminta Siapkan Kajian Mendalam Sebelum Bangun Kolam Renang Berstandar Internasional
Tekanan Fiskal 2026 Bisa Ganggu Peran Kaltim sebagai Penyangga IKN
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 15 Desember 2025 - 12:13 WIB

Komisi IV Desak Penutupan Permanen Seluruh Titik Prostitusi Ilegal di Samarinda

Senin, 15 Desember 2025 - 12:11 WIB

DPRD Desak Pemerintah Pastikan Keberlanjutan Folder Sungai Siring

Senin, 15 Desember 2025 - 12:09 WIB

Fokus Penanganan Banjir Masih Terpecah, DPRD Dorong Prioritaskan Hulu SKM

Senin, 15 Desember 2025 - 12:07 WIB

DPRD Minta Skema Pengawasan Dana RT di Kutim Diperkuat, Bukan Hanya Besaran Anggarannya

Senin, 15 Desember 2025 - 12:06 WIB

Sengketa Internal Dianggap Akibat Minimnya Prosedur Kolektif, DPRD Kaltim Dorong Transparansi Seleksi KPID

Berita Terbaru