Perang yang Difitnah kan, Damai yang Dikhianati, Pater Marsel Agot, SVD: Pemberitaan Menyesatkan Publik

- Jurnalis

Minggu, 1 Februari 2026 - 13:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah riuh ruang digital yang kerap lebih cepat menghukum daripada memeriksa kebenaran, sebuah nama imam Katolik diseret ke pusaran narasi yang tak pernah ia ciptakan. Pater Marsel Agot, SVD, akhirnya memilih berbicara bukan untuk menyerang, melainkan untuk meluruskan sejarah yang dibengkokkan.

Pemberitaan media online Bajo Pedia tertanggal 27 Januari 2026, dengan judul yang sarat imaji kekerasan “pimpin massa bawa parang” telah membangun sebuah adegan yang tidak pernah terjadi. Judul itu bukan sekadar keliru; ia menciptakan realitas palsu, menanamkan rasa takut, dan menodai martabat seorang imam yang sepanjang hidupnya mengajarkan damai.

Fakta yang sesungguhnya jauh dari hiruk-pikuk yang dituliskan. Pada Selasa sore, 27 Januari 2026, sekitar pukul 16.00 WITA, Pater Marsel Agot bersama 16 karyawan Yayasan Prundi datang ke lahan milik yayasan mereka sendiri. Tujuannya sederhana dan sah: menanam pilar serta membuat pagar batas tanah. Tidak ada seruan perang, tidak ada massa yang digerakkan, dan tidak ada niat konfrontasi.

Dari belasan orang yang hadir, hanya dua membawa parangalat kerja kebun yang lazim di tanah Manggarai. Selebihnya memanggul pilar, sekop, dan sebuah linggis. Tidak satu pun benda dipersiapkan untuk melukai manusia. Namun dari alat kerja itulah, sebuah cerita kekerasan dipaksakan lahir.

Baca Juga :  KNPI Samarinda Kecam Kenaikan Tarif PDAM: Jika Tak Dievaluasi, Kami Turun ke Jalan

Di lokasi, rombongan bertemu Jhon Jeriki dan Mansur, yang mengaku sebagai penjaga lahan yang diklaim milik Alo Oba. Percakapan berlangsung terbuka dan tenang. Ketika disebutkan adanya rencana pemasangan baliho oleh pihak lain, Pater Marsel tidak membalas dengan ancaman, melainkan dengan nasihat mengutip filosofi budaya Manggarai agar persoalan tanah sejengkal tidak berubah menjadi luka sosial yang panjang.

Sekitar pukul 17.30 WITA, saat rombongan beristirahat, Mansur kembali mendatangi Pater Marsel dan para staf Yayasan Prundi. Ia menyampaikan peringatan agar berhati-hati terhadap rencana bosnya. Semua disampaikan tanpa teriakan, tanpa ketakutan, dan tanpa satu pun reaksi emosional dari pihak Pater Marsel.

Ironisnya, hanya berselang sekitar dua puluh menit setelah percakapan damai itu, publik disuguhi sebuah berita yang menggambarkan seolah-olah telah terjadi kepemimpinan massa. Ancaman bersenjata, dan rasa takut yang memaksa orang memilih pulang.

 

Tidak ada saksi yang menguatkan cerita itu. Tidak ada peristiwa yang bisa diverifikasi. Yang ada hanyalah narasi sepihak yang berdiri di atas asumsi, bukan fakta.

Di titik inilah kebenaran perlu berdiri tegak. Tidak pernah terjadi konfrontasi. Tidak pernah ada ancaman. Tidak pernah ada intimidasi. Yang ada hanyalah pekerjaan rutin di lahan sendiri, dan percakapan biasa antara manusia yang berbeda klaim.

Baca Juga :  Penuhi Syarat Bacalon KNPI Samarinda, Ronny Hidatullah Kembalikan Formulir Pendaftaran

Framing yang keliru ini bukan persoalan sepele. Ia menyerang kehormatan pribadi, merusak reputasi sosial, dan mencederai martabat jabatan seorang Imam Katolik. Lebih dari itu, ia berpotensi memprovokasi publik dan menyalakan api konflik yang sejatinya tidak pernah ada.

Atas dasar itulah, Pater Marsel Agot secara terbuka menuntut tanggung jawab moral dan etis dari mereka yang menyebarkan pernyataan tidak sesuai fakta termasuk pihak-pihak yang dengan ringan menukar kebenaran dengan sensasi. Permintaan maaf terbuka diminta, bukan sebagai bentuk keangkuhan, melainkan sebagai upaya memulihkan martabat yang telah dilukai.

Apabila kebenaran terus diabaikan, jalur hukum akan ditempuh bukan untuk membalas dendam, tetapi untuk menegakkan keadilan dan mengingatkan bahwa kebebasan pers tidak pernah berarti kebebasan memfitnah.

Klarifikasi ini hadir sebagai penanda: bahwa di tengah kebisingan narasi palsu, kebenaran masih memiliki suara. Dan suara itu, meski tenang, tidak bisa dibungkam. (HSL)

OPINI Ditulis Oleh Hendrikus Seli Lagam

Berita Terkait

DPRD Samarinda Dorong Koperasi Berbasis Potensi Lokal agar Tak Sekadar Formalitas
KNPI Samarinda Kecam Kenaikan Tarif PDAM: Jika Tak Dievaluasi, Kami Turun ke Jalan
HIMA PL Gelar Aksi Peduli Lingkungan Kampus
ALIANSI PEDULI KEKERASAN PEREMPUAN DAN ANAK MUARA BADAK GELAR AKSI DEMONSTRASI
BM DItempel Stiker Belum Bayar Pajak oleh Pemerintah, Anhar ; Satpol PP tidak Boleh Semena-mena
DPRD Tegaskan Biliar Yang Diberikan Izin Beroperasi Selama Ramadan Harus Patuhi Aturan
Novan Syahronny Soroti Keberadaan Anak Jalanan di Simpang Lampu Merah
Terkait Efisiensi Anggaran:Iswandi Angkat Bicara Tentang Perjalanan Dinas
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 Februari 2026 - 13:42 WIB

Perang yang Difitnah kan, Damai yang Dikhianati, Pater Marsel Agot, SVD: Pemberitaan Menyesatkan Publik

Kamis, 18 Desember 2025 - 09:29 WIB

DPRD Samarinda Dorong Koperasi Berbasis Potensi Lokal agar Tak Sekadar Formalitas

Rabu, 5 November 2025 - 22:08 WIB

KNPI Samarinda Kecam Kenaikan Tarif PDAM: Jika Tak Dievaluasi, Kami Turun ke Jalan

Jumat, 24 Oktober 2025 - 19:35 WIB

HIMA PL Gelar Aksi Peduli Lingkungan Kampus

Senin, 5 Mei 2025 - 19:25 WIB

ALIANSI PEDULI KEKERASAN PEREMPUAN DAN ANAK MUARA BADAK GELAR AKSI DEMONSTRASI

Berita Terbaru

Kaltim

KETIKA HUTAN HILANG DAN KESEJAHTERAAN TAK KUNJUNG DATANG

Selasa, 24 Feb 2026 - 20:28 WIB