“DPRD Kaltim Angkat Bicara Terkait Kasus Stunting yang Butuh Perhatian Khusus dari Pemerintah”

- Jurnalis

Senin, 15 Desember 2025 - 02:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RadiusKaltim.id, Samarinda – Menjelang peran besar Kalimantan Timur sebagai penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN), persoalan stunting di daerah ini masih menjadi alarm darurat yang belum terjawab sepenuhnya. Jumat (05/12/2025)

Dengan prevalensi mencapai 22,2 persen atau setara 39.137 anak pada 2024, upaya penurunan yang hanya menyentuh 0,7 persen dalam tiga tahun terakhir dinilai terlalu lambat untuk mengejar target generasi unggul di masa depan.

Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, menegaskan bahwa stunting tidak boleh dipandang hanya sebagai masalah gizi yang terjadi pada anak, tetapi sebagai ancaman besar terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Menurutnya, situasi ini berpotensi menghambat pencapaian Generasi Emas 2045.

Baca Juga :  Pembukaan Lahan di Bukit Soeharto Disorot, DPRD Kaltim Minta Pemerintah Usut Legalitas Perizinan

“Jika masih berkutat dengan stunting, bagaimana kita bisa mencetak generasi emas 2045? Stunting menghambat perkembangan otak dan produktivitas jangka panjang,” tegas Ananda.

Ia menjelaskan bahwa penanggulangan stunting harus dilakukan dengan pendekatan komprehensif sejak masa remaja dan kehamilan. Kasus anemia yang masih tinggi pada remaja putri disebut menjadi faktor awal risiko kelahiran anak dengan potensi stunting.

Di sisi lain, sanitasi yang buruk dan infeksi berulang turut memperburuk kondisi pertumbuhan anak di beberapa wilayah Kaltim. Ananda menilai intervensi sektor kesehatan semata tidak cukup jika persoalan lingkungan dan akses layanan dasar masih terabaikan.

Baca Juga :  Sekretaris DPRD Kaltim Norhayati Usman Hadiri Penutupan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II

Posyandu sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan ibu dan anak juga menjadi sorotan. Ananda menyebut, kurangnya tenaga ahli, terutama ahli gizi, menyebabkan intervensi di lapangan belum optimal dan tidak berkelanjutan.

Dengan kondisi tersebut, Ananda mendesak pemerintah daerah melakukan percepatan pemetaan keluarga berisiko tinggi, memperbaiki infrastruktur sanitasi, hingga menambah tenaga kesehatan terlatih guna memastikan penanganan lebih efektif.

“Kita ingin Kaltim benar-benar siap sebagai penyangga IKN. Itu mustahil jika masih ada puluhan ribu anak yang tumbuh tidak optimal,” pungkasnya, menegaskan bahwa percepatan penanganan stunting adalah investasi strategis bagi masa depan Kalimantan Timur.

Penulis : Adi

Editor : Syahfril

Berita Terkait

Komisi IV Desak Penutupan Permanen Seluruh Titik Prostitusi Ilegal di Samarinda
DPRD Desak Pemerintah Pastikan Keberlanjutan Folder Sungai Siring
Fokus Penanganan Banjir Masih Terpecah, DPRD Dorong Prioritaskan Hulu SKM
DPRD Minta Skema Pengawasan Dana RT di Kutim Diperkuat, Bukan Hanya Besaran Anggarannya
Sengketa Internal Dianggap Akibat Minimnya Prosedur Kolektif, DPRD Kaltim Dorong Transparansi Seleksi KPID
Hasanuddin Sebut Minimnya Standar Pelatihan untuk Daerah Sebabkan Ketimpangan Serapan Anggaran
Pemprov Diminta Siapkan Kajian Mendalam Sebelum Bangun Kolam Renang Berstandar Internasional
Tekanan Fiskal 2026 Bisa Ganggu Peran Kaltim sebagai Penyangga IKN
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 15 Desember 2025 - 12:13 WIB

Komisi IV Desak Penutupan Permanen Seluruh Titik Prostitusi Ilegal di Samarinda

Senin, 15 Desember 2025 - 12:11 WIB

DPRD Desak Pemerintah Pastikan Keberlanjutan Folder Sungai Siring

Senin, 15 Desember 2025 - 12:09 WIB

Fokus Penanganan Banjir Masih Terpecah, DPRD Dorong Prioritaskan Hulu SKM

Senin, 15 Desember 2025 - 12:07 WIB

DPRD Minta Skema Pengawasan Dana RT di Kutim Diperkuat, Bukan Hanya Besaran Anggarannya

Senin, 15 Desember 2025 - 12:06 WIB

Sengketa Internal Dianggap Akibat Minimnya Prosedur Kolektif, DPRD Kaltim Dorong Transparansi Seleksi KPID

Berita Terbaru

Kaltim

KETIKA HUTAN HILANG DAN KESEJAHTERAAN TAK KUNJUNG DATANG

Selasa, 24 Feb 2026 - 20:28 WIB